Saatnya Lebih ke Hilir

Indonesia merupakan produsen Crude Palm Oil (CPO – minyak sawit mentah) terbesar di dunia. Di dalam negeri, industri sawit menjadi sa lah satu industri andalan karena kontribusinya terhadap pendapatan de visa negara yang be gitu besar. Tercatat devisa yang diperoleh dari sa wit pada 2015 mencapai US$18 miliar/ tahun atau 12% dari total ekspor Indonesia pada 2015. Namun demikian, dengan kontribusinya yang begitu besar industri sawit tak luput dari isu negatif lingkungan yang beredar.

Konsep Berkelanjutan

Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), Arif Budimanta berujar, industri sawit dapat menjadi basis unggulan di Indonesia. Karena dari sisi luas tanam dan komo ditas perkebunan, sawit adalah yang terbesar. Selain itu, lanjut Arif, walaupun bukan tanaman endemik dari Indonesia, sawit menggunakan lahan yang cukup besar dan juga dianggap sebagai tanam an monokultur. Padahal, lahan sawit masih bisa dimanfaatkan untuk me nanam komoditas lainnya dengan sistem tumpangsari. “Hadirnya RSPO (Roundtable On Sustainable Palm Oil) dan ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) dinilai perlu untuk mengembangkan standar dalam perspektif manajemen pengelolaan sawit. Bukan hanya ramah lingkungan, tetapi juga ramah sosial serta tetap menguntungkan secara ekonomi,” tutur Arif dalam RSPO Press Circle yang berlangsung di Jakarta. Selasa(27/9) Menuruf Arif, pemerintah, KEIN, dan para pemangku kepentingan sawit harus mengkampanyekan sawit Indone sia agar diproduksi secara berkelanjutan dan tidak kalah sehat dari minyak nabati lainnya. Penerapan standar RSPO maupun ISPO sangat perlu agar produk sawit Indonesia dapat bersaing di pasar Internasional. “ISPO merupakan standar yang mengacu pada Peraturan Menteri Pertanian No.19/Permentan/OT.140/3/2011 yang diterbitkan untuk memenuhi standar keberlanjutan sebagaimana amanah UUD 1945. ISPO juga mandatori bagi perusahaan kelapa sawit mulai dari hulu (kebun) hingga hilir (peng olahan hasil),” paparnya.

Belum Mampu Bersaing

Berdasarkan data Global Palm Oil Conference pada 2015, dalam perdagangan internasional, khususnya produksi minyak sawit global, Indonesia dan Malaysia mendominasi ekspor sekitar 90%. Kendati demikian, Indonesia masih belum mampu bersaing dalam industri hilir CPO. “Ini menjadi tantangan karena dengan bahan baku melimpah tetapi pengembangan produk hilir sawit di Indonesia masih tertinggal,” sesal Arif. Sarjana Ilmu Tanah IPB ini menuturkan, perusahaan Indonesia masih kalah saing dengan per usahaan multinasional maupun ne gara maju seperti AS dan lainnya dalam berinovasi menciptakan produk olah an berbasis kela pa sawit yang bernilai tambah tinggi. Kemudian hasil inovasinya dipatenkan di World Intellectual Property Right Orga nization (WIPO). Bahkan, merunut data yang dilansir WIPO 2011, Indonesia hanya memiliki tiga aplikasi paten yang terdaftar. “Jauh di bawah Malaysia (79) dan Singapura (34), padahal Singapura juga memiliki sawit yang berasal dari kita,” peraih gelar doktor dari FISIP UI ini prihatin. Arif menyimpulkan, kinerja ekspor produk turunan CPO menunjukkan perkembangan positif. “Kontribusi terhadap ekspor produk olahan CPO terus meningkat melampaui ekspor minyak sawit mentah itu sendiri,” tutup pria kelahiran Medan tersebut

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *