Keunggulan Agridrone

Agridrone merupakan produksi dalam negeri dan memiliki beberapa keunggulan. “Drone kami bisa diterbangkan secara autopilot. Jadi kalau sudah selesai, nanti bisa pulang sendiri,” papar Andy. Drone yang tidak punya sistem autopilot bisa hilang di pepohonan yang tinggi karena tidak tahu sudah sejauh mana sehingga sulit di kontrol. Dengan sistem autopilot, ka pasitas baterai yang terbatas juga tidak masalah karena drone akan balik sendiri ketika peringatan baterai akan habis menyala. Sebagai penyemprot, pesawat mungil tanpa awak ini lebih presisi dalam melakukan penyemprotan dibandingkan aplikasi secara konvensional oleh manusia.

Karena sebelum terbang drone su dah di-setting jalur terbang, kecepatan, dan kecepatan aliran semprot, maka hasil semprotnya lebih merata. “Bahkan untuk mengendalikan wereng cokelat yang berada di pangkal batang padi pun tetap efektif. Tekanan angin dari baling-baling drone yang terbang di atas tanaman mampu membuka tajuk tanaman sehingga pestisida bisa sam pai ke batang padi,” Budi menjelaskan. Dan dari faktor kesehatan manusia tentu saja lebih terjamin karena tidak ada manusia di sekitarnya. Tak hanya digunakan untuk penyemprotan, Agridrone ini bisa juga dipasangi kamera untuk pemetaan dan kamera untuk pelaporan. “Bisa hitung populasi, ketinggian, diameter batang tanaman, bahkan kesehatan tanaman,” terang Budi. Saat terbang, pola terbang Agridrone bisa mengikuti kontur tanah atau tinggi rendahnya tanaman. Agridrone juga memiliki ke mampuan mendarat sangat presisi dengan lokasi take off atau hanya ber geser paling jauh 5 cm.

Spesifikasi

Secara umum, Agridrone yang diproduksi di Serpong, Tangerang, memiliki berat kosong sekitar 12 kg dan mampu terbang selama 25 – 30 menit. Apabila dipasangi tangki berkapasitas 10 L dengan penyemprot, pesawat kecil itu mampu mengudara selama sekitar 15 menit. Terbang selama 15 menit tersebut sudah mampu menyemprot lahan seluas satu hektar. Penyemprotan dilakukan dengan volu me yang sangat rendah (ULV) dapat menggunakan dua jenis nozzle, yaitu CDA (controlled droplet applicators) dan van nozzle untuk penyemprotan herbisida. Agar penyemprotan rata, drone ter bang dengan kecepatan 5 – 7 km/ jam. Penggunaan drone dianjurkan pada saat tidak banyak angin sekitar pukul 6 – 10 pagi. Bodi Agridrone terbuat dari bahan carbon fiber.

Material ini tergolong aman apabila terkena bahan kimia, antikorosi, cukup tahan banting, ringan, dan tidak gampang patah. Agridrone menggunakan centrifugal sprayer dengan debit minimum 0,67 L/menit. Secara terpisah, bisa juga terintegrasi dengan RTK meng gunakan pixhawk 2 dengan GPS yang presisinya tinggi. PT Agri Inovasi Dirgantara menyediakan kemungkinan perakitan sesuai kebutuhan pelanggan. Untuk harga, tentunya bergantung pada spesifikasi komponen yang diinginkan pelanggan. Produk dalam negeri yang dibandrol dengan harga sekitar Rp210 jutaan (su dah termasuk PPN) dengan bawaan standar. Dengan harga tersebut pelanggan akan mendapatkan pelatihan dan pelayanan setelah pembelian. Jika mengingin kan komponen tambahan, biaya tambahannya berkisar Rp45 jutaan. Dengan asumsi penggunaan selama tiga tahun atau setara 750 hari kerja, perhitungan kasar biaya penggunaan Agridrone hanya Rp50 ribu/ha termasuk biaya operator. Sedangkan menggunakan tenaga kerja manusia membutuhkan biaya sebesar Rp150 ribu/ha. “Selain biaya secara konvensional lebih mahal, Rp150 ribu/ha, cari orangnya pun setengah mati,” ungkap Andy yang me nyelesaikan pendidikannya di Univer sitas Brawijaya pada 1983.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *