BUMP, Penguat Daya Tawar Petani

Pernahkah kita membayangkan proses kerja petani pangan ketika kita menyantap makanan di rumah atau di restoran? Petani dengan sabar mengolah lahan, menanam bibit, memelihara, dan menunggu beberapa bulan untuk siap panen. Mereka memungut hasil panen dan mengangkutnya ke unit-unit pengolahan. Kemudian hasil pengolahan didistribusikan sampai ke meja makan kita. “Kalau hujan kami kehujanan, kalau panas kami kepanasan, kalau angin kami keanginan. Itulah kantor kami, para petani,” kata Yoyo Suparyo, petani padi di Pamanukan, Subang, Jawa Barat. “Berilah kemudahan kepada kami,” tambahnya. Yoyo salah seorang pejuang pangan Indonesia. Mungkin buat petani maju (champion) sekelas Yoyo Suparyo tidak terlalu perlu mendapatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Pertanian atau KUR-Tani. Tapi banyak rekanan atau anggota kelompok taninya yang masih perlu dukungan pendanaan perbankan dalam menjalankan usahatani mereka. Memang pada 2017 ini pemerintah mengalokasikan KUR Rp110 triliun. Sekitar 40% di antaranya untuk sektor produksi primer, yaitu tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan. KUR untuk produksi primer ini dikenal dengan KURTani. Melalui mekanisme subsidi bunga, petani dapat menikmati bunga KUR Tani 9%/tahun.

Risiko Pasar dan Budidaya

Saat ini tercatat 33 bank serta 4 lembaga kuangan bukan bank dan koperasi sebagai lembaga penyaluran KUR. Namun ketika petani mau mendapatkan KUR Tani, mereka dihadapkan dengan pertanyaan krusial pada awal negosiasi: apakah ada pasar bagi produk usaha para petani? “Fenomena market-driven ini terkait linier dengan spirit dan motivasi penyaluran dana usaha. Risiko pasar selalu menjadi perhatian utama lembaga pembiayaan (ketika mau menyalurkan KUR-Tani kepada petani),” kata Eriyatno, yang pada 6 Maret lalu meluncurkan buku Terobosan Inovatif Pembiayaan Pertanian Mikro: Mengutamakan Kesejahteraan Petani dan Keluarganya. Padahal, untuk produk pangan strategis seperti beras, menurut dosen Fakultas Teknologi Pertanian, Fateta, IPB, itu, pasar sangat terbuka. Risiko ketidakjelasan pasar rendah atau bahkan tidak ada. Tetapi, “Keengganan masih mencekam lembaga pembiayaan bila berhadapan dengan nasabah usahatani pangan,” kata mantan Deputi Pembiayaan, Kementerian Koperasi & UKM itu.

Risiko budidaya juga menjadi salah satu faktor penghambat. Ketidakteraturan masa tanam dan ketidakpastian hasil panen inilah yang selama ini menyebabkan tingginya suku bunga pinjaman di sektor pertanian mikro. Pemerintah menjawabnya melalui KURTani dan asuransi pertanian. Selain itu masih ada juga hambatan psikologis ketika petani berhubungan dengan account officer (AO), petugas kantor cabang bank yang serba formal. Hal ini coba ditanggulangi dengan jemput bola. AO terjun ke lapangan. Tapi, “Cara ini menghabiskan energi AO dan membutuhkan lebih banyak AO di lapang an sehingga tak efisien (bagi perbankan),” lanjut Eriyatno kepada AGRINA. Karena itulah diperlukan mediator yang mampu menembus barikade psikologis bagi petani untuk mendapatkan kucuran KUR-Tani. “Rancang bangun mediator inilah yang bisa menjadi kunci keberhasilan aksesibilitas dan meng alirnya dana perbankan ke pertanian mikro,” papar Eriyatno.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *