Categories
Uncategorized

Agar Umum Kenal Beras Premium

Pemberian label premium tidaklah mudah disematkan untuk beras. Pelabelan tersebut memiliki konsekuensi logis pada kadar kualitas yang harus dipertanggungjawabkan kepada pasar. Sementara, secara mekanis beras yang biasa saja pun bisa disulap tampilannya menjadi beras premium. Hal tersebut dilontarkan WN Soebarjo saat ditemui AGRINA di kantornya, Surabaya, Jawa Timur (7/8).

Untuk menjadi premium, buliran padi harus melewati berbagai rangkaian proses sampai tampilan visualnya menarik. Namun demikian, General Manager Grain Processing Division PT Rutan itu melanjutkan, proses tersebut tidak mengubah cita rasa asli beras.

Dari Pengeringan hingga Pengemasan

Pemrosesan beras, menurut pria yang akrab disapa Bardjo, utamanya berawal dari pengeringan. Saat ini, pengering yang sedang viral di kalangan pengusaha penggilingan padi adalah dryer berjenis Sate’ atau Sate’ Auto Dryer. Pengering ini menjadi populer lantaran aliran hawa panasnya yang berbeda dibandingkan dryer biasa. Pada Sate’ Auto Dryer terdapat dua ruang pengering. ”Penggunaan istilah sate, konkretnya memiliki sistem bolak-balik seperti saat membakar sate,” ulasnya.

Kerataan hasil pengering berimbas pada rice processing berikutnya. Mulai dari pecah kulit, lalu ke separator untuk memisahkan gabah yang sudah dan belum terkupas. Kemudian gabah yang sudah terkupas tadi, masuk ke dalam whitener. Dari whitener, selanjutnya menuju ke milling polisher. Unit inilah yang menyulap penampilan beras jadi bening berkilap. Penampakan cantik itu memunculkan isti-lah baru di pasar, yaitu premium.

Bardjo menambahkan, setelah melalui milling polisher, beras masuk ke mesin pemisah warna yang dinamakan Color Sorter. Beras yang tingkat keputihannya tidak merata akan betul-betul disortir selama masuk ke dalam mesin ini. Mesin pemisah warna dengan kamera berwarna sangat akurat dalam memisahkan bulir beras berdasarkan warna sehingga dapat meningkatkan kualitas beras premium.

Proses berikutnya adalah pengemasan. Bardjo memaparkan, kemasan meliputi branding dan promosi. Setiap kemasan beras harus berkorelasi dengan ketertarikan. Dengan kreasi yang luar biasa, konsumen akan merasa terundang untuk membeli. Kemasan pun belum cukup tanpa branding yang bagus. “Kemasan berhubungan dengan merek dagang yang memiliki konsekuensi tanggung jawab moral untuk memastikan mutu beras yang dikemas,” urainya.

Dan yang paling akhir adalah kaitannya dengan penetapan kadar patah (broken) atau kadar butir kapur (sortir rice) ataupun kadar lain yang disebut derajat sosoh (milling degree). Mata kita tidak sederhana itu dalam melihat derajat sosoh. Ada dua opsi untuk mengetahui derajat sosoh, melalui proses laboratorium dan menggunakan milling meter. Dengan milling meter, kualitas beras bisa dideteksi kadar kecerahannya (transparasi), serta kadar keputihannya (whiteness), dan terutama kadar derajat sosohnya.

Varietas Bahan utama beras adalah varietas yang digunakan. Jika bahannya sudah berasal dari varietas yang baik, maka akan terbukti bisa menjadi beras dengan hasil yang premium.

“Selain ditentukan oleh konfigurasi alat dalam membuat beras premium, esensi lainnya juga berhubungan dengan bahan dasarnya, yakni tempat di mana varietas itu ditanam. Varietas yang sama, tapi ditanam di tempat yang berbeda, maka akan menghasilkan komposisi atau karakteristik beras yang berbeda pula,” pungkas Bardjo.

Di sisi lain kosumen hanya bisa mengandalkan instingnya dalam membeli beras di pasar. Mereka akan memilih beras berdasar merek yang sudah dipercaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *